Bilbo

10 tahun berselang semenjak saya membaca The Hobbit untuk yang pertama kalinya. Berbeda dengan Lord of The Rings yang memang sebuah kisah epik yang mengagumkan, The Hobbit merupakan kisah awal yang ringan dan menegangkan.

Sebuah kisah yang mengantarkan kita masuk dan berkenalan dengan dunia Middle Earth ini.

Kisahnya adalah Bilbo si Hobbit pecinta damai dan anti petualangan yang diajak oleh para kurcaci untuk merebut harta mereka yang disebut2 banyaknya seperti sungai yang dialiri emas yang diambil oleh Smaug sang naga di Gunung Sunyi.

Oke mungkin yang sudah baca pasti tau kisah selanjutnya, dan pasti memiliki kesannya masing2 terhadap kisah ini.

Dan buat saya hal yang paling menarik dalam kisah ini adalah. Ketika Bilbo dan teman2nya berangkat berpetualang, mereka bahkan tidak memikirkan urusan2 biasa seperti

Bagaimana membunuh si naga Smaug yang notabene sudah meluluhlantakan satu kota seorang diri??

Kalaupun tidak dibunuh bagaimana mereka mengambil harta itu dari Smaug?

Kalaupun bisa, bagaimana mereka bisa membawa harta sebanyak itu kembali ke rumah masing-masing?

Tapi mereka memulai petualangan dengan gagah berani.

Bahkan Bilbo Baggins seorang Hobbit yang pemalas dan anti petualangan pun akhirnya mau mengangkat pantatnya dan berlari menuju petualangan yang ada di depan mata!

DAMN! KEREN ABIS!

Terkadang kita mempunyai ide menarik dan membayangkan kita menjalani ide itu (baru dibayangkan lho!) dan ternyata dalam bayangan kita jalan kita mentok. Dan akhirnya kita tidak jadi menjalani ide itu.

Cuma gara2 mentok dalam pikiran kita yang sempit dan bahkan belom dilakukan. Ide menarik itu akhirnya cuma ada di alam ide aja selama-lamanya sampai sangkakala bertiup dan orang lain yang lebih berani yang mewujudkan ide kita.

10 tahun berselang semenjak saya membaca The Hobbit untuk yang pertama kalinya. Buku ini mengenalkan saya pada satu dunia yang baru, sebuah dunia penuh mimpi dan petualangan, dan menyadarkan kita bahwa hidup kita ini adalah suatu petualangan, dan kita adalah pemeran utamanya.

Maka dari itu mari kita jangan terlalu banyak berpikir, mari kita melompat, dengan jatuh maka kita akan belajar lebih cepat.

Lagipula apabila kita bersemangat dan menjalani ide ide yang menarik dengan penuh gairah dan hasrat maka SEMESTA AKAN BERKONSPIRASI untuk mewujudkannya

Dan Bilbo membuktikan itu membutuhkan bukan badan yang kekar, bukan harta yang melimpah, bukan otak yang brilian

tapi Nyali dan Keberanian untuk mengambil satu langkah keluar dari pintu zona nyaman kita :)

vidour:

Vidour bersama Pak Deddy Wahjudi dan Sang Arsitek Salman Pak Achmad Noe’man
#Arsitek 4 Dekade

vidour:

Vidour bersama Pak Deddy Wahjudi dan Sang Arsitek Salman Pak Achmad Noe’man

#Arsitek 4 Dekade

Reblogged from vidour

-IKEA Adv for it’s new product UPLEVA-

Perpaduan yang baik banget antara keanggunan dan supercute

Alhasil gue nonton iklan IKEA ini berkali kali dan gak bosen-bosen (yet)

(gw selalu mati gemes saat ekspresiny di 0:23)

topgear:

Cool guys don’t look at explosions.
From Richard Hammond’s Crash Course 

topgear:

Cool guys don’t look at explosions.

From Richard Hammond’s Crash Course 

(Source: not-my-three-patch-problem)

Reblogged from Top Gear
Pertama kali kami bertemu dengan Pak Hendro Sangkoyo, yaitu pada saat mata kuliah Pembangunan Lingkungan Binaan Berkelanjutan waktu tingkat 2. Beliau datang sebagai dosen tamu, dan mempresentasikan data-data rumit hasil risetnya dengan visualisasi yang keren dari dalam MacBooknya. Yang kami tangkap beliau berkeliling dunia sebagai periset untuk mencari kunci permasalahan dunia ini. Dimana akhirnya beliau memutuskan membuat sebuah Sekolah Ekonomi Demokratik.
Sejujurnya kami tidak mengerti terlalu dalam mengenai apa yang ia paparkan. Setelah kuliah, karena kagum dan penasaran kami mengajak Pak Yoyok untuk duduk dan mengobrol lebih lanjut. Alhasil, masih belum terlalu mengerti juga, maklum pengetahuan kami masih sangat dangkal mengenai masalah Pembangunan Berkelanjutan. Namun dari pertemuan singkat itu, menanamkan hal-hal yang fundamental dalam beberapa dari diri kami. Dan secara harfiah mengubah pola pikir kami secara keseluruhan.

Beberapa tahun kemudian kami melihat beliau sebagai salah satu pembicara utama di acara seminar temu alumni. Berharap mendengarkan materi yang sama dan berusaha mengerti dengan alur berpikir yang sudah berkembang selama beberapa tahun, ternyata kami salah. Namun sama sekali tidak kecewa.

Beliau menjadi pembicara bersama pak Panigoro bos Medco, dan orang-orang besar lainnya. Tidak ada lagi presentasi visualisasi data yang keren dan memukau. Pak Yoyok duduk di depan bersama 6 orang lainnya, yang ia sebut sebagai representasi dari Warga Indonesia dan juga Murid dari Sekolah Ekonomi Demokratik buatannya.
Keenam orang ini mewakili mayoritas dari seluruh warga Indonesia. Ada yang dari perbatasan wilayah konflik, yang hidup di tengah hutan yang dirusak, yang hidup di gunung dan kekeringan, yang di wilayah pedalaman yang jauh tertinggal, yang di daerah pesisir, dan daerah kumuh kawasan metropolitan.
Masing-masing menceritakan pengalamannya, disertai pemutaran video dan foto. Hal yang dipresentasikan menampar semua hadirin-hadirat dan pembicara yang ada di ruangan tersebut. Hendro Sangkoyo tanpa bicara banyak bisa menunjukkan betapa sempit dan piciknya pandangan kita tentang Indonesia, konsep green, kemakmuran, dan banyak konsep hidup lain yang banyak orang menganggap bahwa mereka sudah tahu segalanya.
Beliau membuktikan, setinggi apapun kita menuntut ilmu baik sekolah dalam dan luar negeri, di depan Sekolah Hidup, semua ilmu yang kita pelajari akan terasa kecil sekali.

Ingin sekali saya bisa mengobrol lagi dengan beliau, mendengarkan pemikirannya, dan belajar jauh lebih banyak hal lagi.

Pertama kali kami bertemu dengan Pak Hendro Sangkoyo, yaitu pada saat mata kuliah Pembangunan Lingkungan Binaan Berkelanjutan waktu tingkat 2. Beliau datang sebagai dosen tamu, dan mempresentasikan data-data rumit hasil risetnya dengan visualisasi yang keren dari dalam MacBooknya. Yang kami tangkap beliau berkeliling dunia sebagai periset untuk mencari kunci permasalahan dunia ini. Dimana akhirnya beliau memutuskan membuat sebuah Sekolah Ekonomi Demokratik.

Sejujurnya kami tidak mengerti terlalu dalam mengenai apa yang ia paparkan. Setelah kuliah, karena kagum dan penasaran kami mengajak Pak Yoyok untuk duduk dan mengobrol lebih lanjut. Alhasil, masih belum terlalu mengerti juga, maklum pengetahuan kami masih sangat dangkal mengenai masalah Pembangunan Berkelanjutan. Namun dari pertemuan singkat itu, menanamkan hal-hal yang fundamental dalam beberapa dari diri kami. Dan secara harfiah mengubah pola pikir kami secara keseluruhan.

Beberapa tahun kemudian kami melihat beliau sebagai salah satu pembicara utama di acara seminar temu alumni. Berharap mendengarkan materi yang sama dan berusaha mengerti dengan alur berpikir yang sudah berkembang selama beberapa tahun, ternyata kami salah. Namun sama sekali tidak kecewa.

Beliau menjadi pembicara bersama pak Panigoro bos Medco, dan orang-orang besar lainnya. Tidak ada lagi presentasi visualisasi data yang keren dan memukau. Pak Yoyok duduk di depan bersama 6 orang lainnya, yang ia sebut sebagai representasi dari Warga Indonesia dan juga Murid dari Sekolah Ekonomi Demokratik buatannya.

Keenam orang ini mewakili mayoritas dari seluruh warga Indonesia. Ada yang dari perbatasan wilayah konflik, yang hidup di tengah hutan yang dirusak, yang hidup di gunung dan kekeringan, yang di wilayah pedalaman yang jauh tertinggal, yang di daerah pesisir, dan daerah kumuh kawasan metropolitan.

Masing-masing menceritakan pengalamannya, disertai pemutaran video dan foto. Hal yang dipresentasikan menampar semua hadirin-hadirat dan pembicara yang ada di ruangan tersebut. Hendro Sangkoyo tanpa bicara banyak bisa menunjukkan betapa sempit dan piciknya pandangan kita tentang Indonesia, konsep green, kemakmuran, dan banyak konsep hidup lain yang banyak orang menganggap bahwa mereka sudah tahu segalanya.

Beliau membuktikan, setinggi apapun kita menuntut ilmu baik sekolah dalam dan luar negeri, di depan Sekolah Hidup, semua ilmu yang kita pelajari akan terasa kecil sekali.

Ingin sekali saya bisa mengobrol lagi dengan beliau, mendengarkan pemikirannya, dan belajar jauh lebih banyak hal lagi.

Indonesia punya hari raya nyepi “the greenest festival in the world”, dimana satu hari penuh kita diminta melepaskan segala perhiasan duniawi, dan keluar dari ketergantungan teknologi demi mendekatkan diri pada Sang Hyang.
Entah mengapa kita malah heboh sama earth hour, gerakan yang dibawa negara lain yang bersifat seremonial dan eventual, dimana hanya cuma satu jam saja kita diminta mematikan lampu.
Mengapa?
Apa gara-gara eksklusivitas Islam di Indonesia yang begitu kuatnya?
ataukah memang masyarakatnya yang memiliki budaya tak menghargai budaya sendiri?.
Atau memang budayanya hanya ikut-ikutan saja?

Indonesia punya hari raya nyepi “the greenest festival in the world”, dimana satu hari penuh kita diminta melepaskan segala perhiasan duniawi, dan keluar dari ketergantungan teknologi demi mendekatkan diri pada Sang Hyang.

Entah mengapa kita malah heboh sama earth hour, gerakan yang dibawa negara lain yang bersifat seremonial dan eventual, dimana hanya cuma satu jam saja kita diminta mematikan lampu.

Mengapa?

Apa gara-gara eksklusivitas Islam di Indonesia yang begitu kuatnya?

ataukah memang masyarakatnya yang memiliki budaya tak menghargai budaya sendiri?.

Atau memang budayanya hanya ikut-ikutan saja?

6 Jam perjalanan bolak balik Bandung-Sentul

untuk nonton FESTIVAL BALON TANPA BALON

Iklan Rujakota

General Concept: “Pokonya di taman rumput ijo, penuh bidadari berkejar-kejaran, trus ada Iqrar mukanya mesum!”

Lanang Bintang dan Ronaldiaz

Ditonton berapa kali sungguh sangat absurd

November 2010


Six months after the move, Linda, was diagnosed with breast cancer. She beat it, only to have it recur in 2006. During these past nine years, I’ve been in awe of her power, her beauty, and her spirit. Oddly enough, her cancer has taught us that life is good, dealing with it can be hard, and sometimes the very best thing — no, the only thing — we can do to face another day is to laugh at ourselves, and share a laugh with others.

Bob Carey- Behind “The Tutu Project”

Six months after the move, Linda, was diagnosed with breast cancer. She beat it, only to have it recur in 2006. During these past nine years, I’ve been in awe of her power, her beauty, and her spirit. Oddly enough, her cancer has taught us that life is good, dealing with it can be hard, and sometimes the very best thing — no, the only thing — we can do to face another day is to laugh at ourselves, and share a laugh with others.

Bob Carey- Behind “The Tutu Project”

Behind The Exhibition of Indonesian Architects Week at Tokyo

Ruangan pamerannya kayak surga